Kamis, 23 April 2009

"Pemikiran R.A. Kartini Buah Inspirasi Dari Al-Qur'an"

R.A. Kartini terlahir 129 tahun yang lalu (Jepara, 21 April 1879) dan meninggal muda saat beliau berusia 25 tahun 4 bulan 17 hari (Desa Bulu, Rembang, 17 September 1904).

Kehidupan anak ke-5 dari 11 saudara ini penuh dengan perjuangan. Saat memasuki usia 12 tahun putri pasangan R.M.A.A Sosroningrat dan M.A. Ngasirah ini mulai dipingit dan saat itulah perubahan-perubahan paradigma dalam berpikirnya semakin berkembang dan kritis seiring dengan terbiasa berkoresponden dengan teman-temannya di Eropa (belanda) dan bersentuhan dengan berbagai lapisan masyarakat dan agamanya (Islam) yang banyak menerangkan tentang kemuliaan seorang perempuan.

Beliau menikah secara “terpaksa” pada tanggal 12 November 1903 dengan bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Namun “keterpaksaannya” bukan tanpa tujuan tetapi didasarkan atas satu cita-cita mulia yang membuatnya mendapat julukan sebagai “Pelopor kebangkitan perempuan pribumi.”

Pasca beliau wafat, J.H. Abendanon, selaku Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda pada waktu itu (1900-1905) “merekontruksi” surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa menjadi sebuah buku. Door Duisternis tot Licht demikian judul buku tersebut dalam bahasa Belanda yang berarti “Habis Gelap Terbitlah Terang.”

Judul tersebut mengingatkan saya akan ayat Alquran yang sering terbaca saat talaqi ataupun muraja’ah, “Minadz dzulumaati ilaan nur” yang kemudian saya sengaja mencari kalimat Alquran sejenis menggunakan Alquran FAQ dan pencarian tersebut menghasilkan 6 tempat pada 5 surat berbeda; Qs. Albaqoroh [2]: 257, Ath-Thalaq [11]: 65, Alhadid [57]: 9, Ibrahim [14]: 1 dan 5 dan Alahzab [33]: 43. Kemudian buku tersebut diterjemahkan kedalam berbagai bahasa diantaranya, Inggris, Arab dan tentunya Indonesia.

Hari Kartini sendiri dikenal setelah keluarnya SK Presiden RI (Ir. Soekarno) No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 tentang penetapan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan hari lahirnya (21 April) dijadikan peringatan sebagai hari besar.
Pandangan-pandangan kritis yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap pemerintah belanda akan agamanya (Islam) yang pada waktu itu salah satu politik “misionaris” Belanda adalah tidak diperbolehkan menterjemahkan dan mentafsirkan Alquran dengan alasan “Kitab Suci” dengan tujuan tersembunyi agar umat Islam semakin bodoh dan tidak paham akan agamanya sendiri.

Melalui surat tersebut beliau mempertanyakan,
“Mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami.”
“Bagaimana mungkin kami bisa mencintai agama kami, mengamalkan, mengajarkan, memperjuangkan dan membela agama kami (Islam) jika kami bodoh (karena pemerintah Belanda melarang menterjemah dan menafsirkan Alquran)”.
[Habis Gelap Terbitlah Terang, Armijn Pane, Balai Pustaka, 1978. Hal. 45]
Sindiran lainnya tentang “agama” yang menjadi dasar penjajahan Belanda yakni aksi misionaris yang mereka lakukan. Beliau menyatakan,
“Dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu…”
Perdebatan tentang pemikiran R.A. Kartini tidak pernah sepi diantaranya beliau dianggap mengkhianati perjuangannya sendiri dengan menerima poligami yang dahulu pernah beliau tentang.

Yang jelas menurut saya pribadi merujuk buku Habis Gelap Terbitlah Terang, Armijn Pane yang diterbitkan Balai Pustaka tahun 1978 setebal 214 halaman tersebut dengan format lima bab pembahasan berbeda dari buku aslinya yang berjudul Door Duisternis tot Licht berdasarkan faktor paradigma pemikiran R.A. Kartini yang terus berkembang dan menunjukan perubahan sikap; baik terhadap kontrol sosial, politik maupun masalah religiusitasnya.
R.A. Kartini telah berkembang menjadi perempuan yang taat beragama, ekspresif, sadar akan kedudukannya sebagai seorang perempuan yang dimuliakan dalam Islam, emansipasi yang tidak keluar dari aturan agama yang telah salahkaprah pada saat ini dengan mengatasnamakan beliau terlebih masalah gender equality yang malah menurunkan bahkan melecehkan harkat dan martabat seorang perempuan.

Saya tertarik dengan pernyataan Carissa Putri, pemeran Maria dalam film Ayat-Ayat Cinta yang diangkat dari novel religi terlaris dengan judul yang sama dan menjadi satu-satunya novel yang tidak pernah bosan untuk dibaca berulang-ulang,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar